Kamis, 29 Januari 2009

7 Golongan yang dinaungi Allah

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw : “Tujuh kelompok yang dinaungi Allah pada Naungan Nya dihari tiada tempat berteduh kecuali yang dinaungi Nya, Imam yang adil, dan Pemuda yang tumbuh dg banyak ibadah pada Allah, dan orang yang hatinya terikat ke masjid masjid, dan dua teman yang saling akrab karena Allah, berteman dan berpisah karena Allah, dan pria yang diajak berzina oleh wanita kaya dan berkedudukan dan berparas indah namun ia menolak dg ucapan : aku takut pada Allah, dan orang yang bersedekah dengan sembunyi, hingga tangan kirinya tak tahu bahwa tangan kanannya bersedekah, dan orang yang ketika mengingat / menyebut Allah mengalir airmatanya” (Shahih Bukhari)

Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Yang Kekal dan Abadi, yang telah membangun istana – istana yang megah dan mewah yang kekal dan abadi untuk hamba – hamba beriman. Telah dibangun dengan semewah – mewah dan semegah – megahnya. Menjadi semakin indah dan semakin mewah dengan amal – amal ibadah hamba – hambaNya dan Allah menyiapkan anugerah yang melebihi segenap anugerah. KeridhoanNya yang abadi untuk hamba – hambaNya yang beriman. Demikian sepanjang waktu dan zaman, sepanjang turunnya Adam alaihi shaalatu wassalam hingga Nabi terakhir Rahmatan Lil Alamin (Sayyidina Muhammad Saw).

Kebangkitan Sang Nabi Saw 14 abad tahun yang silam membawa terbitnya matahari Alquran dan Risalah. Menuntun kepada kemuliaan, menyampaikan tarbiyah nabawiyyah seagung – agung pembinaan, membuat jiwa yang kotor dengan seluruh sifat yang hina menjadi jiwa yang suci dengan sifat yang luhur. Jiwa – jiwa yang paling menyukai kehinaan, kejahatan, kekejian, kekotoran dan segala sifat tercela, dituntun oleh cahaya terang – benderang yang diciptakan oleh Allah yang dikenali dengan sirajan muniira (pelita yg terang benderang sebagaimana firman Allah swt) Sayyidina Muhammad Saw.

Terang – benderang jiwa mereka dengan seluruh sifat yang luhur hingga tidak tersisa sifat yang mulia dan suci di alam terkecuali ada pada Para Sahabat radiyallahu anhum wa ardhahum.

Oleh sebab itu dikatakan didalam syair mulia : Kita ini memiliki bulan purnama yang tiada pernah terbenam, matahari yang selalu bersinar dan tiada pernah terbenam yaitu tuntunan Nabi Muhammad Saw yang selalu mengajak dan menerangi hamba – hambaNya dari kegelapan menuju terang – benderang. Dicipta oleh Allah. Syamsur Risalah, Sirajan Muniira (Matahari bimbingan ilahi, Pelita yg terang benderang) Sayyidina Muhammad Saw.

Semakin jiwa itu mendekat kepada tuntunan Sang Nabi Saw akan semakin Allah bimbing ia kepada keluhuran walaupun belum saat ini barangkali, tapi akan segera muncul padanya keluhuran dan hal itu pasti.

Istana termegah dan termewah di surga adalah Istana Muhammad Saw. Semoga aku dan kalian diijinkan Allah kelak sering berkunjung ke Istana Nabi Muhammad Saw. Berjumpa dengan Ahlul Badr, berjumpa dengan Muhajirin dan Anshar dan semua orang – orang yang shalih dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Amiin

Rabbiy Rabbiy.. sungguh kami telah melihat banyaknya orang – orang yang dimuliakan oleh orang Islam padahal mereka tidak pernah menyebut Nama Allah.
Orang yang shalat, orang yang puasa, orang yang zakat tapi hatinya mencintai dan mengagungkan orang yang tidak pernah sujud pada Allah Swt.

Rabbiy benahi jiwa muslimin – muslimat dan muliakan orang – orang yang dicintai Allah dan khususnya Nabiyyuna Muhammad Saw.

7 kelompok yang dinaungi oleh Allah dihari tiada naungan kecuali naungan Allah. Tentunya banyak amal – amal mulia selain ini. Bukan hanya 7 ini tapi disini ada 1 khususiyyah dan tentunya ada ayat kemuliaan tentang hadits kemuliaan birrul walidain, ada juga hadits tentang kemuliaan jihad dan juga hadits tentang kemuliaan lain – lainnya. Akan tetapi Rasul saw menyimpulkan ada 7 kelompok disini. Masih banyak lainnya tapi Rasul saw dalam kesempatan ini menyebutkan 7 kelompok. Siapa mereka?

Didalam riwayat Shahih Bukhari beberapa kali hadits ini teriwayatkan (lebih dari 4X teriwayatkan) hadits yang sama namun dengan urutan yang berbeda. Jadi kita tidak mengklasifikasikan mana yang pertama, yang paling afdhol atau yang terakhir. Karena hadits ini berkali – kali teriwayatkan, urutannya ada yang berbeda.
Untuk keterangan satu persatu bersambung pada artikel selanjutnya.
Semoga bermanfaat

Golongan pertama
Golongan kedua
Golongan ketiga
Golongan keempat
Golongan kelima
Golongan keenam
Golongan ketujuh

Golongan yang ke 1 yang dinaungi Allah

Yang Pertama adalah Imam yang adil (pemimpin yang adil). Pemimpin yang adil adalah tugas dan beban yang sangat berat. Oleh sebab itu dijanjikan oleh Sang Nabi saw ia berada didalam naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah.

Apa maksudnya? Disaat matahari 1 jengkal diatas kepala mereka di padang mahsyar, hanya orang – orang yang dinaungi oleh Allah, ia tidak terkena terang – benderang teriknya matahari. Mereka dalam kesejukkan. Siapa? Diantaranya 7 kelompok itu. Pemimpin – pemimpin yang adil. Kita lihat bagaimana Sang Nabi Saw, tentunya panutan yang utama dari semua panutan adalah Sayyidina Muhammad Saw.

Beliau saw menghakimi dan mengadili, namun pada tempatnya dan jelas. Sebagaimana ketika telah selesai kejadian perang uhud. Disaat kejadian salah satu peperangan. Riwayat Shahih Bukhari, Rasul saw membawa ghanimah (hasil rampasan perang) bukan di perang uhud. Dan disaat itu ghanimah ini dibagi – bagikan kepada muhajirin dan muallaf. Muhajirin adalah orang yang berangkat dari Makkah meninggalkan rumahnya dan meninggalkan perdagangannya dan hartanya untuk berhijrah ke Madinah Al Munawwarah.

Maka diberikanlah harta – harta ghanimah itu kepada para muhajirin dan muallaf (orang yang baru masuk Islam). Anshar tidak diberi. Maka ada diantara kaum anshar yang nyeletuk “kalau bagian jihad kami dipanggil, kalau pembagian ghanimah kami tidak diberi”. Rasul saw mendengar, sampai ke telinga Rasul saw hal itu. Maka dipanggil oleh Sang Nabi saw kaum anshar semuanya. “Wahai kaum anshar, kuberikan harta keduniawian kepada muhajirin dan muallaf dan kuberikan diriku untuk kalian”, “mereka pulang membawa harta dan kalian pulang membawa aku”, kata Rasul. “Apakah kalian puas?” maka berteriak kaum anshar dengan gembira “cukup ridho ya Rasulullah kami senang, pulang kami membawamu ke kampung kami”.

Dan memang Rasul saw itu pulangnya ke Madinah Al Munawwarah, tidak ke Makkah atau kemana. Demikian cara beliau saw menangani. Tentunya Sang Nabi saw bisa bicara dengan lugas dan tegas “wahai kaum anshar, kalian bukan orang yang butuh, yang butuh muhajirin dan muallaf. Kalian punya tanah, kalian punya harta, kalian punya toko, kalian menguasai pasar, sedangkan mereka tidak”. Pantasnya Rasul berkata seperti itu tapi Rasul saw tidak mau menyakiti mereka. Namun tetap tidak memberikan kepada anshar tetapi menghibur kaum anshar dengan ucapan “aku memberikan diriku untuk kalian”. Demikian imam yang adil pada tempatnya namun selalu berusaha didalam tawassuth (dipertengahan tidak condong pada salah satu) dan juga adil disini adalah selalu berusaha untuk menenangkan jiwa mereka menerima keadilan itu.

Pembaca yg budiman, demikian dengan khalifah – khalifah selanjutnya. Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum, Sayyidina Umar, Sayyidina Ali, Sayyidina Utsman. Mereka adalah pemimpin – pemimpin yang adil. Dan mereka sebagaimana diriwayatkan ketika Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu didatangi seorang yang mengadukan. Pengaduannya “wahai amirul mukminin, tetanggaku mencuri dariku. Aku minta dia dihukum”. Dipanggil tetangganya “apa hukumannya?”, “hukumannya potong tangan, potong tangannya wahai amirul mukminin karena dia mencuri dari hartaku”.

Maka Sayyidina Umar bin Khattab bertanya kepada sang pencuri “kenapa kau mencuri?”, “lapar ya amirul mukminin”. Merah padam wajah Sayyidina Umar bin Khattab seraya berkata “wahai engkau yang dicuri, engkau yang akan kuhukum”. Diberi hukuman ‘itaab, apa itu itaab? yaitu hukuman, bisa penjara bisa denda. “Kenapa yg dicuri yg dihukum..?”, “karena tetanggamu lapar, kau tidak tahu..!!”. Demikian imam yang adil.
Hadirin – hadirat, disaat sekarang ini banyak sekali musuh – musuh Islam yang berusaha menghancurkan keimanan muslimin dengan menyebut hukum – hukum Islam yang mereka rasakan tidak adil atau kejam. Diantaranya hukum rajam bagi pezina, diantaranya hukum potong tangan bagi yang mencuri. Tentunya hal ini tidak bisa diputus satu – persatu. Syari’ah Islamiyyah tidak bisa diputus satu – persatu tapi justru bagaikan rantai yang saling mengikat.

Hukum potong tangan tidak bisa diberlakukan terkecuali sudah ada Baitul Maal yang menjamin tidak ada orang yang lapar. Buktinya Sayyidina Umar bin Khattab menghukum orang yang dicuri bukan orang yang mencuri. Ini menunjukkan kalau sudah suatu wilayah mempunyai baitul maal, tidak ada yang kelaparan, semua yang lapar sudah disantuni, semua yang fakir disantuni dan masih ada yang mencuri maka diberilah hukum potong tangan. Betapa kejamnya, kenapa? agar supaya ia malu dan malunya itu membuat orang lain tidak berani mencuri. Demikian di dalam Islam, kelihatannya hukumnya terlalu kejam tetapi kalau seandainya saja hukuman itu ringan, akan banyak orang yang berbuat tapi sebelumnya benahi dulu penyebab – penyebab yang membuat hal itu agar tidak terjadi terkecuali oleh orang – orang yang betul – betul memiliki sifat yang tercela. Ini contohnya yang pertama.

Dan yang kedua mengenai zina. Muncul pertanyaan pada saya di website, di surat dan lain sebagainya. Ada yang berbicara di televisi katanya “hukum orang yang berzina itu tidak akan bisa dihapus dosanya terkecuali dengan dirajam atau dicambuk bagi yang belum menikah”. Betul itu, tapi di wilayah yang sudah berjalan dengan khilafah islamiyyah. Tidak ada ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita), tidak ada lagi gambar porno di jalanan, tidak ada lagi film yang mengajarkan tarbiyah untuk berbuat zina di televisi, tidak ada lagi wanita membuka auratnya. Kalau sudah aman seperti itu, hukum rajam berjalan bagi mereka yang bersumpah 4X dengan Nama Allah bahwa ia betul – betul berzina, lalu dihukum rajam. Kalau ada yang mengaku si fulan berzina, tidak bisa dilakukan hukum rajam terkecuali 4 saksi. 4 saksi yang menyaksikan malihatnya berbuat zina. Bukannya laki dan perempuan masuk kamar berdua, keluar pakaiannya terlihat agak acak – acakkan, tidak cukup itu. Tapi harus melihat perbuatan jima’ dan zina dengan matanya sendiri (4 orang).

Ini kan mustahil..!, terkecuali kalau yang memperbuatnya di jalanan atau di tempat umum atau ia sendiri yang memintanya. Dan Rasul saw sendiri ketika diminta seseorang yang telah berzina meminta dihukum rajam, beliau tidak langsung mengatakan “oh..kau berzina, langsung dihukum”. Tidak, beliau berkata “apakah kau ini gila?”, “tidak ya Rasulullah”, “apakah kau ini tidur?”, “tidak ya Rasulullah”. 4X ia bersumpah lalu dijalankan hukum itu.

Jadi kalau melihat hukum jangan dipotong – potong. Benar hukum zina itu dirajam tapi kalau sudah terjadi khilafah islamiyyah. Pria dan wanita sudah tidak ada percampuran, tidak ada lagi gambar porno, film porno dan lain sebagainya sudah aman, masih berzina juga apalagi di depan umum, pantas dirajam. Kenapa? supaya yang lain tidak ikut – ikutan berbuat hal itu karena yang pantas berbuat itu adalah orang – orang yang benar – benar mempunyai sifat yang keji dan perbuatan itu membuat ia terhapus dari dosanya.

Hadirin, lalu kalau pezina zaman sekarang, apa hukumannya? hukumannya adalah taubat kepada Allah Swt. Apakah bisa diampuni? tergantung taubatnya. Apakah 40 tahun amalnya tidak diterima? ya, kalau 40 tahun ia menunda taubatnya. Allah Swt melimpahkan pengampunan secepat orang itu bertaubat. Semakin cepat orang itu bertaubat, secepat itu pengampunan Allah Swt.

Pembaca yang dimuliakan Allah,(Firman Allah) “Terkecuali mereka – mereka yang beriman dan beramal shalih, bertaubat dari dosa – dosanya. Allah ganti dosa – dosanya dengan pahala (QS Alfurqan 70) bukan dihapus, tapi diganti dengan pahala. Demikian dahsyatnya sambutan Kasih Sayang Illahi bagi mereka yang mau bertaubat.

Kita baru dengar malam ahad yang lalu, Guru Mulia kita menyampaikan kemuliaan orang orang yg bertobat, semoga kita menjadi orang – orang yang bertaubat, lalu seandainya diantara kita masih ada yang berat melakukan taubat, semoga dicabut berat dari hati kami untuk melakukan taubat. Sebagian diantara kita merasa dalam hati kalau aku taubat nanti, besok berbuat lagi maka belum berani taubat. Taubat sekarang, besok serahkan pada Allah. Kalau besok terjebak dosa lagi, taubat lagi besok. Jangan bosan – bosan bertaubat kalau seandainya tidak bosan berbuat dosa.

Kita zaman sekarang bosan bertaubat tapi tidak bosan berdosa. Meskinya sebaliknya kalau tidak maka biarkan berbarengan, dosa taubat dosa taubat dosa taubat, jangan tinggalkan 1 dosa terkecuali diikuti 1 taubat. Lalu bagaimana nanti kalau dosa lagi, munafikkah ?. (jawabannya) Bukan urusanku masa yang akan datang, nanti masa yang akan datang kita serahkan pada Allah. Aku mau taubat dari sekarang dari semua yang dilarang Allah. Bagaimana nanti kalau berbuat lagi? aku akan bertaubat lagi. Sebagaimana aku selalu terjebak dalam dosa, akupun tidak akan bosan untuk bertaubat kepada Allah. Orang seperti ini akan dibimbing oleh Allah dan ia tidak akan wafat terkecuali dalam keadaan orang yang bertaubat.
disunting dari majelisrasulullah.org

Golongan yang ke 2 yang dinaungi Allah

Golongan yang dinaungi Allah yang kedua adalah pemuda yang tumbuh didalam ibadah kepada Allah. Yang masih muda ibadahnya, mulai dari usia muda sudah banyak ibadah.

Siapa mereka? diantaranya kita. Oleh sebab itu Guru Mulia kita Alhamdulillah 2X hadir di majelis kita. Malam selasa di MONAS beliau hadir, malam minggu tidak ada jadwalnya diajukan beliau mau hadir lagi. Kenapa? Karena Pemuda. Karena Rasul saw bersabda “saat pertama kali risalahku bangkit, pemuda yang membantuku menegakkan risalah dan orang – orang yang tua meninggalkanku dan mendustakanku”.

Agama ini bangkit dengan kebangkitan pemuda, kemerdekaan negara ini didapatkan dengan pemuda. Demikian hadirin – hadirat, dan juga kemajuan Islam ini akan muncul dengan kebangkitan pemuda yang ingin membenahi wilayahnya sendiri.

“Innallaha laa yughayyiru maa biqaumim hattaa yughayyiru maa bi anfusihim” QS. Ar-Ra’d : 11 (Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka sendiri yang mau merubahnya). Itu sebagian orang mengatakan “ya sudah kalau ia sudah tidak mau merubah dirinya, Allah tidak akan merubah suatu kaum”. (Tidak demikian), Justru ini janji Allah. Kalau suatu kaum ada diantara mereka yang ingin merubah dirinya, merubah kaumnya menjadi baik, maka Allah yang akan merubah kaum itu menjadi baik. Karena Allah berkata “Aku tidak akan merubah suatu kaum sampai mereka sendiri yang merubah dirinya”. Berarti jika ada yang ingin diantara mereka merubah keadaan kaumnya, Allah yang akan merubahnya.

Pembaca yang dimuliakan Allah,Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika salah seorang pemuda keluar terburu – buru setelah wudhu masuk kedalam shaf shalat. Salah seorang sahabat berkata “law ra aahu Rasulallah La ahabbahu”, pemuda seperti ini kalau Rasulullah melihatnya akan mencintainya. Karena Rasul saw saat itu telah wafat. Menunjukkan apa? pemuda ini, hanya wudhu lantas buru – buru masuk kedalam shaf shalat. Para sahabat pada saat jamaah pertama sudah melakukan shalat, jamaah kedua datang, pemuda ini setelah wudhu terburu – buru masuk ke shaf untuk ikut shalat berjamaah. Berkatalah salah seorang sahabat yaitu Abdullah Ibn Umar “kalau Rasulullah melihat ini, pasti Rasulullah mencintainya”. Rasul itu menyukai pemuda, Rasulullah itu mencintai pemuda.

Pembaca sekalian yang dimuliakan Allah,Semoga Allah Swt membenahi kita semua, khususnya yang dari Jakarta ini dan di seluruh wilayah Barat dan Timur dengan kebangkitan pemuda yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, memuliakan Nabi Muhammad Saw.

Golongan yang ke 3 yang dinaungi Allah

Yang ketiga adalah orang yang hatinya selalu terikat pada masjid. Hatinya cinta masjid walaupun tidak selau berada di masjid. Masjid tempat yang ia jadikan sebagai tempat yang nikmat. Tempat yang dijadikan tempat ketenangan adalah masjid.

Hadirin, sifat seperti ini sirna diantara muslimin khususnya pemuda. Kalau sedang datang gundah, para pemuda kita khususnya tentunya mencari tempat hiburan (café, diskotik barangkali) tapi kita tentunya coba dan coba cari ketenangan itu di masjid.

Gundah saya ini mau cari ketenangan, coba masuk ke masjid. Kau akan dapatkan ketenangan yang jauh lebih daripada di pasar – pasar, di tempat – tempat café, atau direstoran atau tempat lainnya. Enak ini makan dipinggir jalan sambil menenangkan diri kita, Wallahi kesejukkan yang ada di masjid akan kau dapatkan lebih dari itu. Untuk apa? untuk mendapatkan ilmu.

Sekarang dimasa ini, orang lewat masjid itu tidak ada bergetar hatinya. Di zaman dulu, Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu ada 2 orang mengangkat suara agak keras di masjid nabawiy, dipanggil oleh Sayyidina Umar. Riwayat Shahih Bukhari. “sini kalian”, “min ayna antumaa?”orang mana kalian ini?, “orang tha’if”, maka berkata Sayyidina Umar ra : “law kuntuma min ahli hadzal balad La awja’tukuma, tarfa’aan ashwaatakumaa fi masjidil Rasulillah saw” untung kalian orang ba’da tha’if (dari luar Madinah) kalau kalian orang sini, kata Sayyidina Umar “akan aku hukum kalian karena berani mengeraskan suara di masjidnya Rasulullah saw”.

Demikian adabnya Sayyidina Umar bin Khattab ke masjidnya Rasul saw. Mengangkat suara tidak boleh padahal ayatnya untuk Sang Nabi saw bukan untuk masjid nabawiy.
Ayat turun “..laa tarfa’u ashwatakum fauqashawtinnabiy wala tajharuu lahuu bilqauli kajahriba’dhikum liba’dhin antahbatha a’malukum wa antum laa tasy’urun” QS. Al Hujurat : 2. Didalam surat Al Hujurat, ayat itu dilarang mengeraskan suara dihadapan Rasulullah bukan di masjid tetapi setelah Rasul saw wafat pun Sayyidina Umar menjaga itu di masjid nabawiy.

Pembaca sekali, masjid adalah tempat Baitullah (rumah keridhoan Allah, istana keridhoan Allah) yang di pintu – pintunya berdiri para malaikat yang mencatat mereka yang masuk kedalamnya. Catat yang masuk kesini, kalau kita masuk ke istana kan ada penjaganya. Kalau dimasjid ada juga malaikat yang menyaksikan mereka yang hadir di masjid dan mereka berkata “Allahumma firlahum allahumma warhamhum” Wahai Allah ampuni dia, Wahai Allah sayangi dia, sepanjang kalian duduk di masjid.

Mari kita mencari ketenangan di masjid, ikat hati kita dengan masjid, makmurkan masjid niscaya kita akan dinaungi Allah Swt disaat tiada naungan kecuali naungan Allah Swt. disunting dari majelisrasulullah.org

Golongan yang ke 4 yang dinaungi Allah

Yang keempat adalah “rajulan tahaabbaa fillah”, 2 orang teman atau orang yang berteman karena Allah. Bukan karena bisnis, bukan karena teman sekolah, bukan karena tetangga tapi karena Allah.

Maksudnya seperti bagaimana? Seperti kita disini. Yang satu dari Bekasi, yang satu dari Depok, yang satu dari Jakarta Timur, Jakarta Selatan bertemu disini, kenalan disini. Ini bukan untuk dagang, bukan untuk apa – apa tapi karena Allah, karena majelis taklim, majelis dzikir seperti ini. Saling sms kalau tidak saling ketemuan dimana, majelis malam ahad yang akan datang, malam senin dimana, malam kamis. Hal seperti ini dihargai oleh Allah Swt dan mereka tidak berpisah itu juga terkecuali oleh karena Allah. Maksudnya apa? ketika temannya keluar pindah agama maka ia berubah pula kepada temannya tidak seperti dahulu. Kenapa? temannya tidak lagi taat kepada Allah Swt.

Beda antara cinta dan perduli, kalau perduli semua kafir yang paling jahat pun Rasulullah perduli dan mendoakan untuk mereka tapi bukan cinta. Karena Allah Swt berfirman “laqad jaa akum rasulun min anfusikum a’ziizun a’laihi maa a’nittum hariishun a’laikum bil mu’miniina raufurrahiim” QS. At Taubah : 128.

Sayangnya untuk orang – orang muslimin, untuk yang diluar islam beliau peduli. Agar apa?, agar mereka masuk kedalam Islam. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari ketika seorang anak yahudi ada yang mau berkhidmah kepada Nabi saw tapi belum mau masuk Islam, diterima oleh Rasul saw. Masuk ke rumahnya Rasul, khidmah kepada Rasul, bawakan sandalnya, bawakan airnya sampai suatu hari ia sakit dan sakit yang membawa kematian. Rasul menjenguk yahudi (non muslim), ayahnya yahudi juga. Ketika sakit Rasul melihat ini anak sudah dekat dengan sakaratul maut maka Rasul berkata “qul laailahailallah” katakan laailahailallah wahai anak.

Pemuda itu tidak berani menyebut “laailahailallah” terkecuali melirik ayahnya dulu. Ayahnya ijinkan tidak, ayahnya yahudi juga. Maka ayahnya berkata “athi’ abal qasim” taati abal qasim. Ayahnya tidak mau mengakui Rasulullah saw tapi ayahnya tahu ia orang baik, yaitu Nabi Muhammad saw, maka ayahnya berkata “taati abal qasim” maka anak itu mengucapkan “laailahailallah” wafat. Keluar Rasul dari rumahnya, sahabat melihat wajahnya rasul cerah gembira. “Ya Rasulullah apa yang membuat engkau sedemikian gembira hingga cerahnya wajahmu”, Rasul berkata “Alhamdulillahiladzi qad hadaah” Alhamdulillah yang telah memberi ia hidayah. Demikian pembaca yang dimuliakan Allah.

Beda dengan kafir harbi. Ada orang – orang non muslim yang memerangi muslimin, disebut kafir harby,. Demikian kelompok – kelompok kafir, kelompok kafir itu ada 2 ada zimmi dan ada harbi.

Zimmi adalag kafir yang baik dan Harbi adalah kafir yang memerangi. Beda hukumnya, sebagaimana ada dalam riwayat yang tsigah ketika salah seorang yahudi hidup bertetangga dengan Rasul di Madinah. Orang yahudi hidup di Madinah juga bersama 1 kota dengan Rasul. Tapi sewaktu – waktu ketika seorang wanita muslimah (tentunya memakai hijab, memakai jilbab) seorang yahudi usil.

Diikatlah jilbabnya itu dengan salah satu kaki meja dan saat ia berjalan terbuka hijabnya, ia berteriak (wanita muslimah ini). Muslimin berdiri bangkit, orang yahudi juga berdiri membela. Terjadi perpecahan disitu, Rasul saw segera membelah perpecahan dan menahan daripada perpecahan dan mengusir semua yahudi dari Madinah Al Munawwarah. Kalau damai diijinkan hidup bersama, kalau tidak damai maka lain halnya.

Pembaca sekalian demikian di Palestina, demikian di Poso, demikian di Kasymir dan lain – lain.

Sidang pembaca yang dimuliakan Allah,Inilah 2 orang yang saling menyayangi karena Allah Swt, saling mengenal karena Allah Swt. Allah Swt memuliakan kita dengan kemuliaan terindah dengan perkumpulan mulia ini. Masih ada 3 penjelasan lagi tentang kelompoknya, Insya Allah saya teruskan di malam selasa yang akan datang.
Dan kita bermunajat kepada Allah Swt dan semakin bangkitlah untuk memperdulikan keadaan muslimin – muslimat.

Pembaca yang dimuliakan Allah,Kita sudah lihat tanda – tanda kebangkitan muslimin sudah mulai dimunculkan oleh Allah Swt. Sebagaimana Allah sudah menghancurkan Negara Adikuasa Uni Sovyet dipecah belahkan oleh Allah Swt. Dan sekarang (Allah) telah menjadikan Negara Amerika Serikat ini jatuh miskin dan demikian Allah Swt dalam waktu dekat ini semakin kesini semakin berlanjut. Allah mulai mendesak daripada kekuatan – kekuatan kuffar dan semoga Allah segera membalikkan kemakmuran kepada muslimin – muslimat dipermukaan bumi..

Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram, kami telah dengar sabda NabiMU Muhammad Saw yang menjelaskan bahwa kelak setelah aku wafat akan kalian lihat perpecahan, akan kalian lihat gempa bumi, akan kalian lihat musibah –musibah, akan kalian lihat banyak yang mengaku sebagai Nabi dan akan kalian lihat banyak terjadi pembunuhan dan setelah itu akan muncul kemakmuran yang menyeluruh di seluruh penduduk bumi bagi muslimin – muslimat dan disaat itu sabahat berkata “bagaimana keadaan mereka saat itu muslimin muslimat ya Rasulullah..?”, Rasul berkata “bagi mereka sujud sekali lebih baik dari dunia dan segala isinya”.

Menunjukkan muslimin muslimat yang mencintai sujud, yang mencintai ibadah, yang mencintai kemuliaan – kemuliaan yang dibawa oleh Allah. Mereka itulah yang akan dlimpahi kemakmuran dan jika muslimin sudah bangkit untuk meninggalkan dosa – dosa menuju taubat, menuju keluhuran, menuju kemuliaan, itu tanda kemakmuran akan segera dibangkitkan oleh Allah untuk muslimin muslimat.

Kita lihat sekarang Negara super power ini dihancur leburkan dengan kemiskinan oleh Allah Swt dan akan semakin dahsyat kehancuran daripada Amerika, kehancuran Inggris, kehancuran Perancis, kehancuran Negara – Negara musuh Islam. Akan kita lihat Insya Allah dalam waktu dekat dan Allah akan makmurkan Negara muslimin muslimat.

Rabbiy bangkitkan pemuda - pemudi muslimin muslimat untuk mencintai NabiMU Muhammad Saw, Rabbiy makmurkan majelis dzikir, majelis – majelis shalawat dan Rabbiy Ya Rahman Ya Rahim telah makmur panggung – panggung orang – orang yang bermaksiat, puluhan ribu yang hadir membayar dengan uang puluhan bahkan ratusan ribu demi memandang wajah orang yang tidak sujud padaMU maka Rabbiy gantikan keadaan muslimin muslimat, makmurkan majelis yang mengagungkan NamaMU, yang menggemuruhkan NamaMU, yang memuliakan NamaMU, yang mencintai NabiMU Muhammad Saw.

Ya Rahman Ya Rahim gantikan pemuda – pemuda muslimin muslimat dengan pemuda yang mencintai Allah dan Rasul, yang bangga memegang bendera Rasulullah, yang bangga dengan pakaian sunnah Rasulullah, yang bangga dengan sunnah Rasulullah. Ya Rahman Ya Rahim makmurkan bumi Jakarta, makmurkan seluruh wilayah muslimin muslimat dan tolong saudara – saudara kami di Palestine, saudara kami di Khasmir, saudara kami di seluruh wilayah Barat dan Timur yang sedang dalam kesulitan. Pecah belahkan kekuatan musuh – musuh muslimin, hancur leburkan mereka. Ya Rahman Ya Rahim inilah doa dan munajat.
Ya Dzaljalali wal ikram benahi keadaan kami, keadaan rumah tangga kami, bangkitkan keinginan kami untuk bertaubat, bangkitkan keinginan kami untuk meninggalkan kemunkaran Ya Dzaljalali wal ikram Ya Dzaththauli wal in’am.
(disunting dari majelisrasulullah.org)

Golongan yang ke 5 yang dinaungi Allah

Yang kelima adalah pria yang diajak berzina oleh seorang wanita yang indah wajahnya dan mempunyai harta dan jabatan, ia menjawab “inniy akhafullah” (sesungguhnya aku takut pada Allah).

Hadits ini Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan ini bukan khusus untuk pria tapi juga untuk wanita yang diajak berzina oleh pria yang memiliki jabatan dan harta. Orang yang diajak berzina lalu ia menolaknya dengan ucapan “inniy akhafullah” atau dengan bahasanya masing – masing “sungguh aku takut dan risau kepada Allah”. Orang yang menjawab ini kepada orang yang mengajak berzina, tidak dilupakan kalimat yang terucap dari bibir dan hatinya, Allah naungi ia di yaumal qiyamah di hari tiada naungan selain naungan Allah.

Diriwayatkan didalam Mukasyafah Al Qulub yang juga riwayatnya teriwayatkan didalam Shahih Bukhari secara ringkas. Ketika seorang wanita tidak mempunyai kemampuan untuk menafkahi anak – anaknya sehingga ia terjebak kepada kebutuhan dan ia mengetuk pintu seorang penguasa yang kaya raya.

Seorang kaya membuka pintu “apa niatmu wahai wanita?” wanita itu berkata “aku butuh uang untuk anak - anakku” maka orang kaya itu berkata “kalau kau butuh uang padaku maka boleh saja tapi aku mau berzina denganmu dan berkumpul denganmu. Kuberikan apa yang kau mau”. Wanita itu menolak dan pulang, sampai dirumah melihat anaknya yang lapar. Minta kesana – kemari tidak ada yang memberi dan akhirnya ia putus asa dan kembali. Kembali kepada pria itu dan berkata “ya sudah kalau begitu, aku pasrah saja”. Pria itu berkata “aku akan bantu kau dengan lebih yang kau minta”.

Tapi ketika ia sudah didekati oleh pria itu, bergetarlah wanita ini dengan gemetar yang dahsyat. “Kenapa kau ini”, kata pria itu. Wanita itu berkata “aku takut pada Allah”. Ucapan itu menggetarkan jiwa sang pria yang kaya – raya ini karena keluar dari hati yang penuh iman. Kalau hati yang penuh iman kau berucap menggetarkan orang lain. Maka wanita yang tidak berdaya dan miskin berkata “aku takut pada Allah”.

Pria kaya ituberkata “kau ini sudah miskin, cobaanmu berat, sudah sulit hari – harimu, mau menjual dirimu tidak mau karena takut pada Allah. Sedangkan aku diberi kenikmatan yang banyak oleh Allah, aku mestinya lebih takut dan risau daripada engkau. Sudah ini uang aku berikan kau pulang dan aku taubat pada Allah”. Ini riwayat Shahih Bukhari.

Dalam riwayat lainnya Kitab Mukasyafah Al Qulub oleh Imam Al Ghazali, ketika seorang pria senang dengan seorang wanita. Ingin dekat dengannya dan ingin lebih dari itu. Diikutilah kemana wanita ini pergi. Sewaktu – waktu wanita ini ingin pergi ke tempat yang jauh (kalau zaman dahulu namanya kafilah) kalau sekarang pakai bus atau kereta api atau pesawat atau kapal laut. Ini dengan kafilah (rombongan), wanita ini ikut ia juga ikut.

Satu malam sepi, banyak orang sudah tidur. Perempuan ini belum tidur, didekati olehnya. Kenalan, mulai hal yang lebih wanita itu berkata “sebentar – sebentar saudaraku sebelum kita teruskan kemauan kita”, kata sang wanita “lihat dulu apa semua orang sudah tidur”. Pria dengan senangnya kesana – kemari “semua sudah tidur”. Wanita berkata “apa ada yang melihat kita?”, “tidak ada yang melihat, semuanya sudah tidur”. Wanita itu berkata “apakah Allah tidur?”, pria itu kaget dan ia berkata “Allah tidak tidur”. Lalu wanita itu berkata “apakah Allah tidak melihat?”, pria semakin terdesak dan ia menjawab “Allah melihat”, “lalu kau mau terus berbuat dan Allah melihatmu?”. Pria itu menangis dan berkata “aku bertaubat pada Allah Swt”.

Berapa minggu kemudian terdengar kabar oleh sang wanita bahwa pria itu wafat. wanita itu mimpi didalam tidurnya jumpa dengan pria itu didalam kenikmatan. “Engkaukah pria yang jumpa di malam itu? hampir saja kita berbuat dosa dan tidak jadi”, “iya betul”. “Koq sekarang kau begitu mulanya setelah kau wafat?”, ia berkata “terima kasih wahai wanita yang sejak kau menegurku itu, aku bertaubat pada Allah dan Allah membimbingku pada kemuliaan”.

Pembaca yang budiman, demikian indahnya taubat dan demikian Allah menaungi mereka, bagi yang telah terlanjur bergelimang dosa, maka sungguh pengampunan Allah sangat luas dan Allah Maha Pengampun. Semoga Allah menguatkan iman kita, tentu kisah ini tidak hanya bagi para pemuda yang masih bujangan karna yang telah berkeluarga dan berselingkuh pun dalam katagori zina. semoga kita bisa menjaga diri kita iman kita dari segala yang bisa menjerumuskan kelembah kehinaan.(disunting dari majelisrasulullah.org)

Golongan yang ke 6 yang dinaungi Allah

Yang keenam adalah orang yang bershadaqah dengan sembunyi – sembunyi, kata Rasul saw sampai tangan kanannya memberi dan tangan kirinya tidak tahu.

Maksudnya adalah ketika ia memberi itu sangat tersembunyi.
Bagaimana contohnya? Contohnya ada orang fuqara berdagang (orang miskin / orang susah yang berdagang). Ini berapa harganya? misalnya Rp. 10.000,-. Tahu kita ini harganya Rp. 8.000,- bayarkan Rp. 10.000,-, kalau saya tawar harganya Rp. 8.000,- pasti diberi karena memang harganya Rp. 8.000,- misalnya. Ia langsung beli tanpa menawar. Maksudnya shadaqah untuk si penjual. Ini yang disedekahi pun tidak tahu bahwa ia disedekahi. Sang penjual tahunya ini orang tidak menawar langsung membeli, padahal sebenarnya ia mau bershadaqah. Ini jangankan orang lain tahu, namun bahkan yang disedekahi pun tidak tahu kalau ia sedang disedekahi. Orang yang seperti ini dinaungi oleh Allah Swt di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika salah seorang yang mengumpulkan hartanya yang banyak untuk bershadaqah sembunyi – sembunyi. Ia kumpulkan uang sampai berjumlah sekian ribu dinar dalam 1 tahun. Kerja khusus untuk bershadaqah tapi sembunyi – sembunyi. Sudah terkumpul, pergi keluar malam hari. Dilihat ada seorang wanita tidur di jalanan. “Wah ini orang susah”, kasih uang ia menutup wajahnya memberikan bungkusan uang itu dan lari supaya tidak diketahui wajahnya. Pagi hari gempar di kampung. Ada pelacur diberi shadaqah oleh orang sembunyi – sembunyi. Ia berkata “Subhanallah!! Salah beri, aku kira wanita susah ternyata pelacur”, “Ya Rabb aku setahun mengumpulkan uang untuk dapat pahala shadaqah yang sembunyi – sembunyi ternyata uangku untuk pelacur”.

Tapi ia tidak putus asa, ia kumpulkan lagi uang sampai setahun yang jumlahnya sekian ribu dinar. Sekarang aku tidak mau tertipu, pilih – pilih dulu. Dilihatnya orang sedang duduk diam saja di satu tempat yang gelap. “ini pasti orang susah”, diberi padanya lalu lari. Paginya gempar lagi, pencuri sedang ingin mencuri mendapat uang shadaqah dengan jumlah uang yang besar. “Ya Rabb 2 tahun aku bekerja khusus untuk memberi nafkah orang yang susah dengan sembunyi – sembunyi. Tahun pertama pelacur, tahun kedua pencuri”.

Ia tidak jera, kumpulkan lagi sampai 1 tahun. “Ya Rabb ini yang terakhir, kalau sudah masih lagi sampai shadaqah bukan kepada mustahiq, selesai Ya Rabb aku tidak mampu lagi”. Dia lihat orangtua tengah malam jalan sendiri dengan tongkatnya tertatih – tatih. “Wah ini orang yang pasti berhak, malam – malam begini orangtua jalan malam - malam dengan tongkat pasti orang susah”. Dilemparnya uang itu “ini untukmu” dan ia pun pergi. Pagi hari gempar lagi kampung, “ada kabar apa?” orang paling kaya dan paling kikir dapat uang semalam oleh orang yang shadaqah sembunyi – sembunyi. “Ya Rabb yang pertama pelacur, yang kedua pencuri, yang ketiga orang paling kaya dan paling kikir di kampungnya. Ya Rabb apa arti dari perbuatanku?”.

Ia pun diam, sekian tahun kemudian... 20 tahun kemudian, Allah Swt sampaikan kabar padanya ada dua orang ulama besar adik kakak. Muridnya puluhan ribu dan ia termasuk orang yang asyik dengan ulama itu. Ini ulama adik kakak dua – duanya orang yang sangat luar biasa ilmunya luas, pengikutnya puluhan ribu.

Ia berkata “Subhanallah!! ini ulama adik kakak siapa ayahnya?”. Kasak – kusuk tanya kesana – kemari ternyata 2 orang anak itu adalah ibunya seorang pelacur dulu tapi tengah malam ada yang memberi shadaqah sembunyi – sembunyi. Ibunya itu melacur untuk nafkah anaknya maka ia taubat dari pelacurannya dan ia sekolahkan kedua anaknya dengan hartanya itu. Allah jadikan dengan harta itu anak ini jadi orang baik menjadi ulama besar dan pahalanya kembali padanya. Airmatanya mengalir, ternyata yang kuberikan 20 tahun yang lalu Allah menjadikannya berlipat ganda sampai muncul 2 orang ulama shalih sampai puluhan ribu orang yang beribadah mengikuti ilmunya dan pahalanya untuk dia. Ini keikhlasan seseorang.

Tidak lama kemudian ia dengar lagi ada seorang wali shalih wafat. Masya Allah ratusan ribu yang mengantar jenazahnya. Siapa orang itu? Orang itu dulu pencuri, saat ia sedang mencuri ia berdoa kepada Allah “Ya Rabb beri aku keluhuran kalau aku dapat rizqi malam ini aku taubat”. Ada yang melemparinya uang lantas ia bertaubat ia bershadaqah, ia masuk ibadah dan ia tidak keluar dari tempat ibadahnya sampai Allah angkat ia menjadi orang yang shalih.

Lantas ia (orang yg bersedekah yg terharu atas dua kabar itu berkata) berdoa “Ya Rabb tinggal yang ketiga, bagaimana dengan orangtua yang paling kaya dan kikir di kampung kami”.didapatilah informasi “oo orang itu sudah wafat tapi ia pindah ke tempat lain berwasiat mengirimkan seluruh hartanya untuk membangun Baitul Maal bagi para anak yatim sampai sekarang itu hartanya masih makmur”. Kenapa? gara – gara dia malu tengah malam katanya, dia yg kaya kikir, tengah malam ada yang sedekahi. Dia berkata “ini orang sedekah padaku, sementara aku tidak pernah shadaqah. Aku nafkahkan seluruh hartaku dan harta ini untuk baitul maal” dan untungnya terus berlipat ganda sampai 20 tahun tidak berhenti. Ini pelipatgandakan di dunia dan pahalanya di hari kiamat dinaungi oleh Allah Swt.

Subhanallah tiada kebajikan yang sia-sia didunia ini, jika terlihat belum nampak, sungguh Allah maha tahu Rahasianya, ini adalah support bagi para pengharap Ridho Ilahi agar tidak bosan-bosannya berbuat baik dan beramal kebajikan.
Semoga kita dimasukkah Allah kedalam golongan ini.
(dikutip dari majelisrasulullah.org)

Golongan yang ke 7 yang dinaungi Allah

Yang ketujuh adalah pria yang mengingat Nama Allah, pria yang menyebut Nama Allah maka mengalirlah airmatanya. Entah karena rindu, entah karena doa, entah karena harapan, entah karena haru, entah karena risau akan dosa, entah karena besarnya harapan ingin masuk surga tapi ketika ia menyebut dan mengingat Nama Allah mengalir airmatanya.

Ternyata tetesan airmata dari perasaan seperti ini dilihat oleh Yang Maha Melihat dan membuat ia di nanungi oleh Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt. 7 kelompok diantaranya kelompok ini, kita berharap berada dikelompok yang ketujuh. Kelompok yang selalu mengingat Allah mengalir airmatanya.

Meneteskan air mata ketika mengingat Allah, ketika berdzikir baik berdzikir melalui menyebut nama Allah dan asma' NYA, maupun mengingat Allah melalui mempelajari keagunganNYA, dengan mempelajari struktur anatomi, dengan mempelajari geografi dan segala sesuatu yang kita lihat di alam ini, sehingga kita dapat meneteskan air mata karna mengingat Allah.

Alangkah bahagia dan nikmatnya ketika kita bermunajad di penghujung malam, bersimpuh dihadapan Allah Yang Maha Perkasa, mengakui kelemahan dan takut kepada Allah akan siksa dihari nanti, Menyesali timbunan dosa yang menumpuk tersembunyi didalam diri kita, meratapi dan merisaukan diri ini akan dosa yang banyak dan ibadah yang tak seberapa, tak bisa diandalkan kecuali kemurahan dan Rahmat Allah yang Maha merahmati, Maha Pemurah hanya itu yang kita andalkan.

Allah Maha Pemurah, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang itu yang kita harapkan, sekian banyak kisah para hamba Allah yang beribadah puluhan tahun, ketika tidak mendapatkan rahmat Allah dan tidak diampuni dosanya meninggal dengan keadaan tersesat maka bencana baginya, dan sebaliknya banyak kisah para pendosa bergelimang dosa bertahun-tahun tetapi rahmat Allah disisa umurnya yang hanya beberapa saat dan dia bertaubat bahkan ada yang belum sempat sholat, tetapi Allah telah menjamin pengampunan dan syurga karna kemurahanNYA.

Sungguh Rahmat Allah-lah yang kita andalkan, kita berusaha berada dalam naungan Rahmat Allah seperti para rosulullah yang tidak berbuat dosa dan akhir hidupnya dirahmati Allah beserta para sahabat rosulullah kebanyakan ulama dan orang sholeh.

Tidaklah patut setekun apapun kita beribadah kepada Allah tetapi lupa akan Rahmat Allah sehingga kita terlalu percaya diri telah beribadah dan telah meninggalkan segala kemaksiatan Rahmat Allah pasti kita dapatkan karna kita melihat orang lain begitu banyak yang bermaksiat disamping kiri kanan kita.

Kita tidak layak mengecam siapapun yang kita lihat lebih hina tidak pernah ibadah dan gemar maksiat sebagai durjana yang pasti masuk neraka, tetapi hendaknya kita selalu berharap agar kita yang telah disadarkan Allah terus semakin dekat kepada Allah dan dirahmatai Allah Dunia Akhirat dan selanjutnya doa tercurah untuk orang yang kita lihat belum mendapatkan kesadaran dan hidayah. Mencela bukanlah hal yang patut bagi orang yang dirahmati Allah, karna takutnya kepada Allah sementara akhir kehidupan manusia khusnul khotimah atau sebaliknya adalah ditangan Allah sbg penentu.

Mari kita selalu bermunajad dengan kerisauan kita agar kita bisa digolongkan hamba Allah yg dirahmati Allah, digolongkan kedalam pencinta Allah, digolongkan hamba yang bertaqwa kepada Allah, mencintai saudaranya karena Allah SWT. dan terahir semoga satu bahkan bisa lebih dari 7 golongan yang dinaungi Allah kita masuk kedalamnya. amiin ya Roobal alamin

wallahu a'lamu bishowab.

Selasa, 27 Januari 2009

Dangkal ilmu dan pemahamannya

Saudaraku yang kumulyakan, statemen "Dangkal ilmu dan pemahaman ini sering sekali kita temukan akhir-akhir ini diberbagai tulisan-tulisan para pencari ilmu, bahkan mereka yang sudah bergelar mufti pun mengeluarkan statemen yang begitu congkak ini, padahal tanda ketinggian ilmu adalah bertambah tawadhu'nya atau kerendahhati seseorang, karna jelas didalam Al-qur'an Allah berfirman secara jelas dan tidak berselisih tafsirnya dalam Sural Al-fathir ayat 28 "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya Adalah ulama'".
Bahkan dalam tafsir Qurthubi tercantum pendapat Mujahid bahwasanya seorang Faqih atau seorang ahli Fiqh atau orang faham tentang agama maka dialah yang lebih takut kepada Allah, iyanya memang demikan bahwasanya dari ke empat imam Ahlussunnah wal jama'ah mereka saling memulyakan pendapat yang lain walaupun imam tersebut mengungkapkan pendapatnya yang berbeda dengan alasan/dalil tersendiri, bahkan Imam syafi'ie sendiri mengeluarkan statemen ketawadhuan yang sungguh memukau ”Jika kalian mendapati pendapatku tidak benar, maka lemparkan pendapatku itu ke tembok" Begitu pula dengan Imam-imam yang lain, ada yang mengatakan:”pendapatku benar, mungkin mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, mungkin mengandungi kebenaran? Juga ada yang berkata:”Jika kalian temui hadits shahih, maka itulah mazhabku?

Sungguh statemen para imam diatas tidak menjatuhkan sedikitpun kewibawaan keilmuan mereka justru mereka terangkat tinggi bagai bintang, mereka adalah benar-benar ulama' yang semakin pandai, semakin berilmu semakin takut kepada Allah, bukan melecehkan pendapat ulama' lain dengan mengatakan "Dangkal ilmunyalah, tak faham agamalah, sesat dan lebih-lebih musyriklah" dll.

Pernyataan dan tuduhan kepada orang lain atau kelompok lain dengan perkataan Dangkal ilmunya ini tidaklah patut dilontarkan kepada saudara seiman yang mengakui kebenaran dua kalimat syahadat, jika memang masih banyak dikalangan masyarakat yang kurang ilmunya maka mereka tidak mengeluarkan hukum atau fatwa sama sekali, hanya taklid atau mengikuti, sedangkan hukum mengikuti ulama adalah diperbolehkan bagi orang awam yang belum banyak tahu ilmunya, oleh sebab itu sebelum mengatakan "Dangkal ilmunya" kepada yang mau dituduh hendaknya telusuri dulu siapa yang berfatwa atau yang mengeluarkan pendapat sehingga diikut masyarakat tersebut, karna boleh jadi jika tidak tahu yang mengeluarkan siapa yang berfatwa pertama kali atau yang diikuti sesungguhnya yang mengatakan "Dangkal ilmunya" itulah yang sejatinya lebih dangkal ilmunya.

Perkataan Dangkal ilmunya dan pemahamannya ini sangat cocok dilontarkan kepada orang-orang non muslim atau kafir yang menantang jidal (berdebat) dengan orang islam, bahkan sampai-sampai Rosulullah diperintahkan untuk menawarkan bermubahalah dengan mereka yang tetap ngotot bahwa mereka adalah benar, tetapi statemen itu tidak pas dan tidak sepatutnya bagi yang beriman dg bersyahadat, karna sesiapa telah bersyahadat iyanya dia telah muslim dan Rahmat Allahlah bagi orang Muslim dan Mu'min dan tidak patut sesama muslim mengundang Adzab Allah (mubahalah) hanya masalah furu'.

Saudaraku yang saya mulyakan, terdapat pula hadits nabi SAW yang memberikan perhatian kepada kita agar berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu termasuk mengeluarkan statemen, seraya beliau bersabada dari Abdullah bin mas'ud "Tidak akan masuk syurga siapa saja yang di hatinya terdapat seberat dzarroh (biji sawi) dari kesombingan.(HR.Muslim)

Ini mengisyaratkan kepada siapapun kepada kita agar berhati-hati dalam segala hal termasuk mengeluarkan kata merendahkan "Dangkal ilmunya" yang secara langsung atau tidaklangsung sang pembaca akan berasumsi bahwa yang mengeluarkan statemen tersebut adalah lebih tinggi ilmunya dibandingkan yang diremehkan dg Dangkal ilmunya. Bahkan pelajaran yang memukau lagi dari rosulullah yang dilempar oleh orang Quraisy sampai berdarah2, maka jibril menawarkan akan menimpahkan gunung pada yang menganiayanya tetapi Rosulullah dengan sabar bersabda "tidak usah sungguh mereka itu belum tahu, (belum diberikan hidayah)" ini adalah tanda kasih sayang seorang Rosul kepada mereka yang belum mengerti, Rosulullah tidak mencela mereka bukan?.padahal mereka nyata2 masih kafir.

Wallahu a'lamu bishowab

Senin, 26 Januari 2009

Pengaruh media Masa

Tidak dipungkiri bahwa kemajuan technologi membuat dunia ini semakin terasa mudah dijangkau atau bisa dikata "semakin sempit", dengan duduk didepan monitor komputer atau layar televisi radio telephon dan segala media yang bisa mempercepat informasi sampai pada masyarakat, maka masyarakat dengan mudah mengetahui segala yang terjadi dibelahan bumi mana dia ingin ketahui.

Percepatan informasi yang ada ini tidak hanya membawa danpak yang positif tetapi juga berdampak negatif, tergantung individu dan media yang dijejalkan oleh penyiar media yang menyuguhkannya, jika disuguhkan kebaikan maka akan berpengaruh baik dan jika buruk maka berimbas buruk pula pada komunitas masyarakat.

Jika pada zaman dulu (nabi ibrahim ismail musa dll) mereka berumur panjang tetapi belum tentu yang diketahui mereka dan yang dijelajahi mereka melebihi yang diketahui umat akhir zaman sekarang, maka sungguh Maha Bijaksana dan Maha Adilnya Allah yang memberikan umur yang tidak begitu panjang pada umat nabi Muhammad SAW tatapi Allah juga menyertai kehidupannya dengan ilmu, dan perkembangan kecanggihan tecnologi.

Tetapi tak ayal media telah berperan banyak dalam mempengaruhi asumsi masyarakat, informasi membuat pemikiran dan pandangan masyarakat terhadap segala yang diterimanya dari yg dilihat didengar dan dirasakan, sementara macam media yang ada diindonesia dan seluruh alam semakin menjamur semakin beragam ada yang positif dan banyak pula yang negatif.

Secara tidak langsung kita bisa simpulkan bahwa media adalah Guru atau penasehat keseharian kita, jika yang kita pilih media yang cenderung pada kemungkaran maka mungkarlah pandangan kita, jika kita memilih media yang baik maka baik pulalah yang akan kita dapat, itulah sebabnya mengiringi kemajuan zaman sekarang saya setuju bahwa islam harus memiliki media terutama TV, untuk mengimbangi banyaknya media yang kurang amanah terhadap pemberitaan.

Fenomena meledaknya berita eksekusi Amrozi dkk yang sebagian lain menyebut Amrozi adalah pemberani yang memberi peringatan pada pelaku maksiat di bali suapaya ingat maut, atau sebagian lain yang memandang bahwa Amrozi adalah teroris yang telah melenyapkan banyak orang meninggal karena ulahnya, sementara eksekusinya yang ditunda beberapa kali yang membuat peristiwa eksekusinya menjadi hal yang luar biasa, pemberitaannya bak seorang pahlawan atau selebritis yang kondang.

ingin mendengar lebih lanjut pendapat para pakar dan mengamat silahkan anda simak video berikut yang juga media TV, yang perlu ditimbang dan menjadi tambahan pengetahuan, bukan berarti bahwa penulis setuju dan mendukung seratus pesen akan media yang penulis sediakan dibawah ini. Untuk melanjutkan nonton jika telah selesai pertama maka klik next yaitu tanda ( >l ) pada bawah video.

Kedhzaliman Human Traficking

Seorang pejuang adalah yang berani mengorbankan apa saja bahkan dirinya dan hartanya telah dibeli oleh Allah dengan syurga. Tetapi keadaan yang ada dalam negri kita sekarang ini justru sebaliknya. Betapa tidak? tidak hanya praktek manusia yang menjual dirinya sendiri pada orang lain dengan murahanan bukan menjual pada Allah melalui jihad yg sudah tentu dibayar dg syurga yg teramat berharga, bahkan tak jarang para manusia tak bertanggung jawab menjual kehormatan orang lain gadis2 yang tidak tahu apapa, perempuan2 yang ingin berjuang sungguh2 mencari nafkah mulya untuk keluarganya yang secara langsung atau tidak langsung telah menjual harga diri bangsa kepada orang bangsa lain, sehingga martabat dan kehormatan bangsa terinjak-injak dimata dunia, kehormatan manusia terlecehkan dimata Allah gara-gara ulah orang tak bertanggungjawab yang hanya mementingkan nafsu duniawi sendiri, kekayaan pribadi.

Sungguh memprihatinkan mental para pemimpin bangsa, dan para pengurus bangsa yang tidak bertanggungjawab, yang terkalahkan oleh hawa nafsu keserakahanan pribadai keluarganya atau kelompoknya.

Ya Allah Gantikan para pemimpin dan pengurus bangsa kami dan bangsa kaum muslimin di seluruh Alam dengan yang lebih baik yang Engkau ridhoi. Peringatkan dan sadarkan mereka yang dholim dengan caramu ya Robb, sesungguhnya kami orang yang lemah dhoif tak berdaya apapa kecuali seluruh daya adalah milikMU ya Arhama Rohimien.

اللهم انصرنا و انصرالإسلام و المسلمين و اعز الإسلام و المسلمين

Video berikut bisa kita renungkan betapa memprihatinkan nasib bangsa ini dan kaum lemah yg diperdaya tak mampu melawan dan tak mampu berbuat apapa.
video ini dari TV bila ingin melanjutkan menonton maka klik next ( >l )

Ancaman PHK massal

Kesulitan semakin mencekik rakyat, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, ancaman PHK yang begitu real didepan mata, bagaimana tidak indonesia bersistem ekonomi yang menginduk ke amerika, dan woldstreet krisis maka berimbas ke seluruh pengikutnya termasuk Indonesia. 1.5 juta pekerja indonesia di Malaisia, jepang dan korea terancam PHK, belum lagi banyaknya perusahaan dalam negri yang akan gulung tikar, Apalagi kalau ditambah dari lulusan baru SMA, perguruan tinggi yang membutuhkan kerja, yang bekerja saja diPHK apalagi yang mau daftas, "Maka kemana keseluruhannya ini akan pergi"?? bagaimana solusinya?

secara tidak langsung ini adalah ancaman bahwa pengangguran akan semakin banyak, krisis ekonomi semakin merebak, sungguh hampir2 kefakiran akan menjadikan orang menjadi kufur demikian nasehat Agama, oleh sebab itu bersegeralah untuk menancapkan keimanan yang kokoh, ketakwaan yang menghujam, tingkatkan kesadaran iman dan takwa, kembali pada Allah, sistem ekonomi jika memang memerlukan revolosi besar2an itu artinya akan terjadi masa peralihan yang akan membuat gelombang yang sangat dasyat terhadap ekonomi kita. Jika sistem ekonomi ini dipertahankan maka nyata2 faham kapitalisme ini telah menyengsarakan jutaan manusia yang jaya semakin jaya, ketika yang jaya hancur semuanya menjadi hancur, tidakkah ini sama dengan monopoli perekonomian?

Video dari SCTV dibahah ini membahasa Ancaman PHK massal jika ingin melanjutkan menonton video ini maka klik next ( >l ) selamat menyaksikan merenungkan dan bersikap setepat mungkin dimulai dari bersiap-siap

Palestina tercabik

Kedholiman di gaza oleh israel nyata-nyata sebuah kejahatan tidak berprikemanusiaan yang harus dihapuskan, israel benar-benar terkutuk manusia yang telah dikuasai oleh nafsu belaka, yang akalnya sudah tidak berfungsi hatinya telah terkunc, hanya Allah yg bisa menghendaki segalanya. semoga Allah memberikan kemulyaan pada mujahidin fi sabilihi.

Video ini diambil dari TV SCTV, jika yg pertama telah habis dan tidak meneruskan maka kliklah tanda >l untuk meneruskan lanjutannya

Minggu, 25 Januari 2009

Pemahamanku tentang perbedaan

Bismillah alhamdulillah wa sholatu ala rosulillah Muhammad ibnu Abdillah.

Terkadang manusia melakukan sesuatu dengan niat yang baik, kemudian berusaha memulai mengerjakan sesuatu tersebut hasil dari pemikirannya, namun tidak menutup kemungkinan apa yg dikerjakan ternyata dipandang kurang baik oleh sebagian orang yang lain, itulah mengapa sebabnya rosulullah berpesan bahwa segala aktivitas kehidupan di atas medan kehidupan yang fana (dunia) ini harus didasarkan kepada dua pedoman dasar sebagai seorang muslim yaitu Al-Qur'an dan al-hadits atau sunnah Rosulullah SAW.

Tetapi bagaimana kalau hal itu tidak terdapat pada keduanya? ada dua kemungkinan ketika kita melihat sesuatu itu tidak terdapat dalam al-quran maupun hadits menurut kita yaitu, karna kita tidak tahu bahwa telah ada di al-qur'an dan hadits karna pemahaman dan pengetahuan kita pada keduanya yg minim dan yang kedua memang tidak ada secara jelas dibahas dalam keduanya, jika memang tidak ada maka dari itulah ulama mengambil jalan ijma' ihtihsan (atau kesepakatan jamaah mengambil maslahat) dan qiyas (yaitu dinisbatkan pada kejadian yang persis sama dimasa rosulullah dan sahabat.

Nah tak jarang dari kita yang melakukan sesuatu yang dianggap sesuati dengan pedoman islam, tatapi sebagian yang lain tidak mengatakan bahwa itu sesuai bahkan melanggar, ini yang biasa terjadi disebut sebagai perselisihan atau perbedaan pendapat, sudah sejak zaman sahabat hal ini terjadi, setelah rosulullah wafat, pemahaman terhadap agama islam menjadi banyak fersi, pemahaman disebut dengan figh (bahasa arab) oleh sebab itu setiap ulama yang memiliki pemahaman dan memiliki pengikut karena dianggap tsikkoh pendapatnya sesuai dengan ajaran islam dan pedomannya maka ulama' tersebut disebut sebagai imam dari pemahaman atau biasa dikenal imam madzhab.

Adapun perbedaan dalam hal yang pokok akan menjadi perbedaan yg membahayakan, dan akan berpengaruh sangat besar pada wajah ajaran islam, oleh sebab itu Ahlu sunnah wal jama'ah walaupun banyak berbeda dalam furu' (cabang) tetapi mereka sepakat bahwasanya pada hal yang pokok (usul) yang mengandung nash shorih tidak ada perbedaan, jika ada perbedaan dalam hal ushul maka telah keluar dari ahlussunnah wal jama'ah. karena Ahlussunnah telah menetapkan tidak adanya ijtihad untuk nash (hukum syariat) yang bersifat shorih (jelas).

Boleh adanya ijtihad tetapi yg sesuai dengan qur'an dan hadits serta salafussholih, ketika hukum tersebut bersifat furu' atau cabang. Tetapi ada yang mempermasalahkan pada hal furu' dianggap sebagai hal yang pokok, maka dikembalikan lagi kepada kesepakatan ulama, dan jika disenarai ayat tersebut telah jelas maka yang membahasnya harus mengikuti jamaah dan tidak perlu dipermasalahkan kembali, jika ternyata masalah tersebut terdapat banyak pemahaman berbeda berarti hal tersebut adalah hal yang furu' (cabang) karna tidak shorih (jelas)nya maksud suatu nash.

wallahu a'lamu bishowab